Kamis, 12 September 2013

Wawancara Student Board Prasetiya Mulya

Beberapa hari yang lalu, kelompok kami mewawancarai salah satu kakak Student Board yang bernama Kak Yusuf Heryanto yang menjabat sebagai koordinator Financial & Research Development. Sesuai apa yang dikatakan Kak Yusuf, awalnya ia ingin kuliah di Monash University. Tetapi karena orang tua yang tidak ingin jauh dengannya, maka ia memilih Prasetiya Mulya yang kebetulan berlokasi dekat dengan rumahnya, serta Prasetiya Mulya merupakan sekolah bisnis nomor satu di Indonesia.

Kak Yusuf bercita-cita untuk menjadi seorang eksekutif yang sekaligus wirausahawan. Hal itu karena seorang eksekutif yang sekaligus wirausahawan bisa mendapat banyak kenalan karena ia berada di suatu lembaga. Sedangkan seorang wirausahawan sangat membutuhkan adanya koneksi dalam dunia bisnis. Kak Yusuf merasa untuk mewujudkan cita-cita tersebut tidak cuma bisa diwujudkan jika kuliah di Prasetiya Mulya karena masih banyak kampus yang baik di Indonesia. Tetapi kenapa harus Prasetiya Mulya ? Bukan kampus lain?

Prasetiya Mulya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kampus manapun. Perbedaan itu seperti, di Prasetiya Mulya yang ditanamkan adalah hasil bukan jadi sesuatu yang bisa dilihat, namun kita harus melihat proses pencapaian untuk menjadi sebuah hasil tersebut. Selain itu Prasetiya Mulya menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan kampus lain, seperti memberikan hampir seluruh hal yang dibutuhkan oleh seorang entrepreneur dan mata kuliah jangkar seperti Technology Based Business dan Analytical and Creative Thinking (ACT). Menurut Kak Yusuf, di Prasetiya Mulya kita membutuhkan time management karena banyaknya aktivitas selama menjadi mahasiswa Prasetiya Mulya.

Clay - Levina - Yurisa - Marcelina - Benny - Kak Yusuf - Otto - Erdo - Bryan - Jansen - Kevin

Menurut Kak Yusuf, di Prasetiya Mulya kita perlu menyeimbangkan time management karena banyaknya aktivitas selama menjadi mahasiswa Prasetiya Mulya. Sebagai contoh, apabila kita menjadi kepanitiaan dalam entrepreneur day. Hari acara dilaksanakan 2 hari setelah hari ujian sedangkan kepanitiaan baru dibentuk sebulan yang lalu, dan kita harus mempersiapkan itu semua sekaligus mempersiapkan ujian. Tidak dipungkiri, hal itu akan membuat waktu luang kita berkurang bahkan hampir tidak ada sama sekali. Maka untuk itu, kita harus mempersiapkan mental kita agar kita tidak panik jika menghadapi kondisi seperti itu.

Tidak hanya time management, kita juga membutuhkan communication skill. Sebagai contoh, pada saat membuat tugas kepanitiaan. Jika itu semua kita kerjakan sendiri maka akan menghabiskan waktu yang lama. Tetapi jika dibagi-bagi menjadi beberapa orang yang mengerjakannya maka akan menghabiskan waktu yang lebih cepat dan efisien.

Kak Yusuf juga berpendapat bahwa kita juga perlu memiliki skala prioritas. Kita harus dapat memilah-milah mana yang lebih penting dan patut diutamakan. Seperti sekolah, keluarga, teman, Tuhan, dan organisasi. Tentunya semua hal penting, tetapi semua itu harus diatur dengan baik agar tidak terjadi bentrok.

Tips lain yang Kak Yusuf juga berikan bagi kelompok kami adalah kita semua harus percaya bahwa kegiatan Introductory Program (IP) adalah hal yang mulia dan mendidik seumur hidup. Dalam IP semua mahasiswa baru Prasetiya Mulya dididik untuk menghadapi tugas yang sangat menumpuk. Padahal di kenyataannya (selama menjalani kehidupan di kampus), Kak Yusuf merasa beban yang ditanggung tidaklah sebanyak itu, kira-kira hanya setengahnya. Tumpukan tugas bisa meningkat di saat-saat akhir menuju ujian, namun tidak separah yang dihadapi saat IP. Untuk itulah mengapa IP diprogram untuk mempersiapkan mental mahasiswa baru Prasetiya Mulya agar dapat mengerjakan tugas yang menumpuk tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar