Minggu, 01 September 2013

Outbound: Planning, Process, Proceeds

Mulai dari hari Rabu, 28 Agustus 2013 hingga Jumat, 30 Agustus 2013 kami mengikuti acara outbound di Jatiluhur. Berbekal barang bawaan yang perlu kami siapkan, kami siap berkumpul di kampus Prasetiya Mulya pada pukul 5 pagi untuk berangkat ke lokasi.

Jauhnya lokasi dan jalanan yang buruk di daerah lokasi outbound memaksa kami untuk menaiki tronton tentara selama 5,5 jam dengan “atraksi wahana Dufan” – seisi tronton bergejolak tidak karuan hingga susah untuk duduk dengan stabil. Kami turun tergesa-gesa dan lari secepat mungkin karena dibentak oleh para KOSTRAD saat tiba di lokasi untuk berbaris di lapangan untuk melakukan upacara pembukaan acara outbond.

Acara dilanjutkan dengan long march ke kamp. Jarak yang jauh, medan yang buruk, dan terik matahari yang panas menjadi tantangan yang cukup berat bagi kami. Hal ini sama persis dengan kondisi yang akan kami hadapi selama perkuliahan – tidak boleh pantang menyerah dan beristirahat lama-lama untuk menyelesaikan studi di Prasmul selama 4 tahun. Kamp KOSTRAD yang kami lihat mengakhiri rasa lelah kami bak wisuda lulus kuliah.

Otto - Marcelina - Levina - Yurisa - Benny - Bryan - Erdo - Clay - Kevin

Hari-I: Planning
Planning, dapat diartikan sebagai rencana ataupun persiapan, harus dibuat dari awal. Inilah yang kami lakukan dan alami pada hari-I outbound. Kami semua dipersiapkan oleh KOSTRAD – baik secara fisik, mental, maupun aturan-aturan yang berlaku – agar dapat mengikuti acara outbound dengan baik, bersikap lebih sigap, dan cepat dalam bertindak.

Hal pertama yang dipersiapkan secara tegas di kamp adalah tata cara makan. Kami semua diatur agar tidak bersikap seperti orang rendahan – tetap memiliki etika dan sopan santun. Di sini kami belajar bahwa kita yang kehidupannya sudah mampu, bisa beli makanan sebanyak-banyaknya, tidak boleh menyia-nyiakan makanan yang kita ambil. Seberapapun yang diambil harus menjadi tanggung jawab pribadi untuk dihabiskan. Begitu pula dengan tugas dan tanggung jawab yang harus diterima baik saat kuliah maupun setelah lulus nanti. Kita juga harus mau membantu orang lain semampu kita tanpa segan jika melihat ada yang belum menyelesaikan tugasnya, seperti membantu menghabiskan makanan teman sebelahnya setelah menyelesaikan makananannya sendiri.

Persiapan pada hari-I tidak hanya diberikan dari KOSTRAD saja. Kami juga diberikan kesempatan oleh Kak Ardi dan Kak Pinkan, dua GI kami, untuk mempersiapkan kelompok kami untuk mencapai tujuan kelompok. Kami diberikan arahan bahwa untuk mencapai sukses kami perlu menentukan tujuan/target kami. Target yang kami inginkan harus mengikuti kaidah SMART (Spesific, Measurable, Attainable, Realistic, Time-scale) kemudian dituliskan dalam sebuah apel. Agar target tersebut tercapai, perlu adanya aturan yang berlaku dalam kelompok.

Refleksi atau renungan malam menjadi persiapan dari KOSTRAD untuk kami yang kedua. Pola pikir kami yang membenci dan tidak sopan kepada orang-orang yang lebih tua, terutama orang tua sendiri, diubah dan dibuka bahwa tindakan-tindakan mereka yang mungkin membuat kami kesal sebenarnya memiliki makna tertentu. Kita perlu menghargai jerih payah orang tua kita agar dapat membesarkan kita dalam kehidupan yang aman dan nyaman, walau harta didapat dari hasil korupsi. Rasa takut basah kena air waduk yang berlumpur dan berbusa menambah kesadaran kami bahwa kami sebenarnya orang-orang yang tidak berdaya tanpa mereka, sama jijiknya dengan air waduk yang kami takutkan.

Hidup kami juga tak akan seaman dan senyaman ini jika bendera merah putih tidak dapat berkibar hingga hari ini walau hidup bersama orang tua. Kita mendapatkan sokongan dari para pahlawan yang jerih payah memerdekakan bangsa Indonesia. Sebagai seorang calon pebisnis, kami sadar bahwa kami perlu membayar utang budi mereka dengan ikut membangun negeri ini juga.
               
Hari-II: Process
Acara utama pada hari ini adalah Business-Day – kami harus berusaha keras untuk mendapatkan poin dari rappling, rowing, hiking, dan games agar dapat makan siang dan beli bahan-bahan untuk membuat maket. Pada hari inilah kami melakukan process – kerja kelompok dalam satu tim sesuai dengan aturan dan rencana (planning) yang dipegang agar mencapai target yang kami inginkan.

Keempat kegiatan tersebut menggambarkan tugas yang berbeda karakteristik. Dalam games, kami diajak agar dapat berkomunikasi antar anggota dengan baik – mau disuruh oleh pimpinan, memberikan pendapat, pimpinan mengerti anggota, dan lainnya. Dalam rappling, di mana kami harus menentukan urutan giliran siapa yang melakukannya, kami diajar agar dapat menyusun strategi dengan baik dalam menyusun suatu tugas. Dalam rowing dan hiking, kami dituntut agar dapat bekerja sama secara bersamaan, saling memotivasi, sehingga tugas dapat rampung lebih cepat.

Maket menjadi tujuan utama dalam acara ini, bukan empat kegiatan tersebut. Tiap kelompok harus membuat sebuah bangunan dari koran bekas yang alat dan bahannya bisa didapat dengan menukar poin yang telah didapat. Sangat persis menyimulasikan praktek berbisnis yang ada saat ini – menentukan alat dan bahan yang dapat dibeli, bekerja efektif dan efisien, buat perjanjian dengan kelompok lain, inflasi pasar, dan lainnya hingga akhirnya saling berebut. Padahal bisa saja kita membangun sebuah bisnis yang bersifat sinergi, bukan 100% saling sikut-menyikut bisnis lainnya.

Hari-III: Proceeds
Dua malam terlewati dengan bentakan dan ledakan yang dibunyikan pada pukul 02.00 pada malam terakhir. Kami semua kaget, lari luntang-luntung tak karuan ke lapangan helipad, bolak-balik untuk mengambil barang pribadi yang tertinggal di barak. Hingga sekitar pukul 05.00 pengepakan barang untuk pulang selesai dilakukan.

Pagi ini diinstruksikan untuk mencari banyak pipa di semak-semak. Mudah didengar, sulit dilakukan. Semangat pantang menyerah dan ketelitian diuji dengan rimbunan semak berduri dan serangga-serangga pengganggu. Tidak hanya itu, setelah semua pipa yang ditemukan terkumpul, semangat kebersamaan untuk membangun saluran air Desa Unggul juga diuji sehingga tidak ada air yang bocor. Walau tidak sebanyak yang diharapkan, pada akhirnya Prasmulyan 2013 dalam outbound gelombang II berhasil melakukannya.

Inilah kami, kelompok 41. Setelah mempersiapkan diri dan disiapkan dari pihak PAC dan KOSTRAD, melakukan kegiatan yang membutuhkan tingkat kerja sama yang tinggi, kami menjadi kelompok yang lebih solid dari sebelumnya. Kami menjadi lebih terbuka dan mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing. Inilah kami, yang juga lebih terbuka untuk berinteraksi dengan kelompok lain, saling tolong-menolong walau dihadapkan pada tugas yang sama dan tingkat kompetisi yang tinggi. Inilha kami, apa yang kami inginkan pada hari-I outbound ini.


Planning, Process, Proceed. Itulah yang kami bayangkan mengenai outbound yang telah kami lalui ini. Tiga hal yang kami butuhkan dalam mencapai kesuksesan dibungkus dalam acara outbound selama 3 hari 2 malam yang sangat melelahkan namun seru dan menantang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar